..secuil tentang sayaa..

Foto saya
hoooi, nama saya Aisha L. Tamara Jinki Setiawan Yong Dae, tp cukup panggil saya tamie. el juga boleh, ONEW apalagi, hehe. pecinta sepakbola, badminton, korea, novel, musik, SBY, daan segala sesuatu yg asik, seru, serta menyenangkan. yup, sekian ^^

..baca..

..baca..
Aerial by Sitta Karina

..ngupingin..

..ngupingin..
Ring Ding Dong by SHINee

..friendship quotes..

11 November 2009

Second Chapter

Annyeong haseyo~ ^^

Sebelumnya saya minta maaf sedalam samudra karena lambreta nge-post cerita ber-chapter ini. Miaaan, soalnya ada tiga proyek sekaligus yang kejar tayang menunggu saya, dan saya bingung mesti ngerjain yg mana duluan ^^; *akhirnya dikerjain barengan, dan selesainya sama-sama... lama :p*
Nah, untuk mempersingkat waktu, sijak hagetseumnida (mari kita mulai) chapter kedua cerita saya.. Mian kalo geje, tidak memuaskan, dan kekurangan lainnya. Makanya kasih saran!

***

=Flashback chapter=
Hyun-In kembali ke Korea setelah tinggal di Paris selama tiga tahun bersama sahabatnya, Han Hye-Soo. Tiga tahun yang lalu ia mengalami kecelakaan cukup parah dan membuatnya amnesia. Baru beberapa jam ia menginjakkan kaki di Korea, dia sudah dipertemukan oleh seseorang... dari masa lalunya...


Chapter 2

"Kau!!?" seru Hyun-In dan orang itu bersamaan. "K.. kau? Hyun-In ssi?" tanyanya agak gugup. Seketika rona wajahnya berubah. Hyun-In mengangguk. Memorinya memutar bayang-bayang hitam putih tentang sosok pemuda di hadapannya ini. Tidak bisa.. Terlalu samar.. Hyun-In tak bisa mengingatnya walau yakin pernah bertemu orang ini sebelumnya.

"Masih ingat padaku?" tanya pemuda itu sambil menyibakkan rambutnya yang dicat kemerahan. Hyun-In mengerutkan kening, lalu menggeleng pasrah. "Mian, tapi ingatanku belum benar-benar pulih setelah kecelakaan yang kualami tiga tahun lalu. Aku yakin pernah melihatmu tapi aku sungguh-sungguh tidak ingat.."

Pemuda itu menampilkan ekspresi terkejut. "Jamsiman gidariseyo. Jangan bilang kau..."
Hyun-In mengangguk. "Ya, aku memang amnesia."
"Astaga!" pekiknya. "Je.. Jeongmal mianhae! Ya Tuhan, aku tidak menyangka sudah membuat seorang gadis amnesia! Maafkan aku, aku tak sempat menengok atau menanyakan kabarmu karena ada tugas penting yang harus kulakukan. Kabar terakhir yang kudengar kau sudah pergi ke Paris. Dan dari situ, aku kehilangan kontak...."

Hyun-In bengong mendengar kalimat demi kalimat yang meluncur cepat bagai petasan dari mulut pemuda ini. Dan tampaknya, pemuda ini tahu apa yang dipikirkan Hyun-In. "Nae iremen Kim Soo-Ki imnida," katanya sambil mengulurkan tangan. "Yang... dengan tidak sengaja, menabrakmu tiga tahun lalu. Kasarnya, aku yang sudah membuatmu amnesia.."

Tangan Hyun-In yang sedang menjabat tangan hangat Soo-Ki mendadak terhenti. "Jadi.. Kau yang menabrakku?" tanyanya memastikan. Soo-Ki mengangguk. "Aku berusaha bertanggung jawab sebisaku, dengan membawamu ke rumah sakit dan membayar semua biaya pengobatanmu. Tapi sumpah, aku masih merasa bersalah karena aku belum sempat bicara langsung denganmu.."

Wajah kaget Hyun-In kembali cerah. "Sudahlah, lupakan. Itu sudah tiga tahun yang lalu, kan? Dan aku sudah memaafkanmu, tentu saja."
Soo-Ki melongo. "Yang benar? Kau tidak marah?"
Hyun-In tertawa. "Kenapa aku harus marah? Aku bisa membunuhmu disini kalau aku mau, tapi dengan syarat kau bilang bahwa kau menabrakku karena ingin menghilangkan nyawaku!"
Soo-Ki ikut tertawa, sebuah tawa lega. Tiba-tiba saja ia merasa nyaman berada di dekat Hyun-In, begitu juga sebaliknya.

"Ngomong-ngomong," Hyun-In memulai pembicaraan baru. "Bagaimana caranya kau masih ingat nama dan wajahku? Setelah tiga tahun berlalu, aku yakin banyak perubahan yang terjadi padaku."
Soo-Ki tersenyum. "Aku ingat gelang perak yang melingkar di tangan kananmu. Dan.. Aku memang langsung mengenali wajahmu, karena bagiku wajahmu masih sama dengan tiga tahun yang lalu!"
Hyun-In tertawa pelan. "Mwo? Kalau begitu aku harus memuji ingatanmu, Tuan!"
Soo-Ki tersenyum. "Anio, anio. Tidak susah kok mengingat wajahmu, karena kau.. Cantik.."

Wajah Hyun-In langsung merona mendengarnya. Ia buru-buru menunduk tapi Soo-Ki sudah melihat semburat itu. Soo-Ki langsung tertawa berderai dan Hyun-In baru sadar betapa merdu suara tawa pemuda itu. "Aku serius!" ujarnya sambil mengacungkan dua jari.
"Sudah sudah! Bisa terbang hidungku kalau kau puji aku lagi!" sergah Hyun-In setengah tersipu. Soo-Ki meredam sisa tawanya dan tersenyum lebar, membuat jantung Hyun-In jadi heboh sendiri. Senyum itu.. Ramah dan sangat bersahabat, membuat kesannya tinggi di mata Hyun-In.
Ah, apa secepat itu aku jatuh cinta?

"Wah, sudah sore.." gumam Soo-Ki sambil menengadahkan kepalanya ke langit. "Sebaiknya kau pulang, Nona. Biar kuantar, ya?"
Hyun-In menggeleng. "Apartemenku tidak jauh, kok. Nanti malah merepotkanmu.."
Kali ini giliran Soo-Ki yang menggeleng. "Tidak. Membiarkan seorang gadis berjalan sendirian sore-sore begini beresiko, tahu. Kalau kau kenapa-napa, aku tak mau dituduh jadi tersangka!"
Hyun-In tertawa renyah mendengarnya, membuat jantung Soo-Ki serasa berhenti berdetak. Jantungnya berdesir tatkala melihat wajah Hyun-In berkilat temaram terkena bias matahari senja. Apa iya aku jatuh cinta padanya?
"Baik, baik. Aku menyerah. Ayo!"
***

Di apartemen Hyun-In...
"Kemana sih anak ituuuu!?" geram Hye-Soo sambil menghentakkan kakinya, cemas. Sejak sejam lalu ia berusaha menghubungi Hyun-In yang secara ajaib menghilang dari apartemennya tanpa kabar. Dengan keadaan Hyun-In yang baru pulang dari luar negeri dalam keadaan amnesia, siapa yang tidak cemas?

"Apartemen kosong, tidak ada catatan, telepon tidak diangkat.. Aduuuh, dimana sih anak itu? Kalau muncul akan ku..."

"Hye-Soo? Hye-Jin? Sudah lama, ya?" suara Hyun-In yang ceria muncul memecah kekhawatiran Hye-Soo, dan kantuk Hye-Jin yang kelelahan berdiri di depan pintu. "Hyun-In~a??!!" Hye-Soo berlari menghampiri Hyun-In dan langsung menjitak kepala gadis itu sampai meringis kesakitan.

"DARIMANA SAJA KAU, HAH!!?"
Hyun-In mengusap-usap kepalanya. "Itta, Hye-Soo~a! Aku kan cuma jalan-jalan sebentar.."
"Itta? Ada, katamu? Ada dimana? Kalau kau ada, aku tak akan mencemaskanmu, tahu!"
"Hyun-In ssi, ini saputanganmu terting..."

Hye-Soo bengong melihat sosok pemuda luar biasa ganteng berdiri dan wajah pemuda itu langsung berubah kikuk melihat Hyun-In sedang disidang. "Ah, gomaweo!" Hyun-In menghampiri Soo-Ki dan meraih saputangannya, membiarkan Hye-Soo terpaku di tempat dan Hye-Jin cemberut ngambek. "Aku pulang dulu, ya. Sepertinya aku mengganggu. Annyeong haseyo, Hyun-In ssi. Nae-il tto mannayo!"

Hyun-In melambaikan tangan dan menunggu hingga Soo-Ki hilang di pintu lift. Ketika ia berbalik, Hye-Soo sudah berdiri di belakangnya dengan mata berbinar. "Ceritakan padaku siapa dia!!" jeritnya antusias.
***

Hyun-In menceritakan semuanya dengan wajah sumringah. "Oh, aku sungguh tidak menyesal dia menabrakku karena dia begitu baiiiiik!" Hyun-In mengakhiri ceritanya.
"Dan tampan," tambah Hye-Soo sambil melempar bantal kursi ke arah Hyun-In. Hyun-In tertawa. "Hei, sudah, Hye-Soo~a. Pacarmu ngambek tuh!" bisik Hyun-In lalu cekikikan. Hye-Soo menoleh dan menjulurkan lidah ke arah Hye-Jin. "Kau tahu aku tak akan selingkuh darimu, kan?"

"Hei hei, lanjut.." Hye-Soo kembali serius pada Hyun-In. "Jadi ceritanyaaa, kau sudah jatuh cinta padanya nih?"
Hyun-In tersentak, wajahnya langsung memerah. "A.. Aku.."
"Katakan ya saja, aku setuju kalau dia bersamamu! Ketimbang si..." Hye-Soo menggantung kalimatnya ketika sadar ada sesuatu yang tak bisa diungkapkannya.
"Ketimbang siapa?" kejar Hyun-In penasaran.
"Monyet!" jawab Hye-Soo asal.
"SIALAAAAAAN!" Hyun-In menimpuki Hye-Soo dengan sebal.
***

TING TONG!
Suara bel pagi itu mengejutkan Hyun-In yang sedang asyik sarapan sendirian. Untung udah mandi! batin Hyun-In sambil berjalan menuju pintu, mengira-ngira siapa yang datang ke apartemennya sepagi ini.
"Ah, annyeong haseyo!" Soo-Ki membungkuk ramah. "A-annyeong haseyo," balas Hyun-In sambil tersenyum. "Angin apa yang membawamu datang kesini pagi-pagi?" tanya Hyun-In heran setelah menyilahkan Soo-Ki masuk. Pemuda itu terlihat charming dengan celana jeans hitam dan T-Shirt abu-abu, sebenarnya sederhana tapi sangat pas dipakai Soo-Ki.

"Angin ini!" Soo-Ki menunjukkan dua tiket gratis sebuah taman hiburan termahal di Korea. "Mwo?" Hyun-In bengong tak percaya. "Aku sengaja mengajakmu pagi-pagi supaya kita puas mengelilingi taman hiburan itu. Kau tahu kan, taman itu besar sekali? Jangan menolak karena kau adalah orang penting yang kupilih!"

Lalu tanpa menunggu jawaban Hyun-In, Soo-Ki langsung menggeretnya menuju lapangan parkir dan menyuruhnya masuk mobil.
***

Hye-Soo~a, aku pergi bersama Soo-Ki, dan mungkin menghabiskan waktu seharian. Nanti malam kau menginap di apartemenku, ya? Aku mau bercerita banyak! ^^

Hye-Soo tersenyum membaca SMS itu. Ia senang karena Hyun-In terlihat begitu bahagia sejak pertemuan pertamanya dengan Soo-Ki. "Apa tidak terlalu cepat?" tanya Hye-Jin yang mengintip membaca SMS itu dari belakang pundak Hye-Soo. Hye-Soo menghembuskan nafas. "Mungkin ya, tapi sepertinya mereka benar-benar jatuh cinta. Tak apalah, asal Hyun-In bahagia.. Dan.. Pemuda itu tidak seperti Rae-Ri.."
Hye-Jin mengangguk setuju. "Dengan hadirnya Soo-Ki, aku harap Hyun-In dan Rae-Ri bisa tutup buku.."
"Apa Hyun-In tak akan mengingat kembali tentang Rae-Ri?" tanya Hye-Soo.
"Pasti ingat, tentu saja. Tapi kalau dia sudah menemukan cinta baru, kenapa dia harus mengingat masa lalunya yang pahit?"
***

Seharian ini Hyun-In benar-benar melepaskan seluruh kepenatan dalam dirinya, dengan menikmati semua wahana yang disediakan taman hiburan itu. Soo-Ki sendiri sudah puas melihat binar-binar keceriaan yang terpancar di wajah Hyun-In. Entah mengapa, melihat wajah cerah Hyun-In saja sudah membuatnya sangat bahagia. Mungkin karena aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya...

"Oppa, terima kasih banyak untuk semuanya.. Aku benar-benar menikmati hari ini!" ujar Hyun-In riang. Ia lalu mencium pipi Soo-Ki yang duduk disampingnya. Dapat ditebak, tubuh Soo-Ki mengejang, tapi ia langsung dapat menguasai dirinya. Soo-Ki mengelus-elus kepala Hyun-In dengan lembut. "Cheonmanneyo, aku senang melihatmu gembira!"

"Tapi.. kenapa kau mengajakku? Kita kan baru kenal?"
Soo-Ki mengangkat bahu. "Saat menerima tiket ini, hanya namamu yang terlintas di kepalaku. Yah, kuanggap itu sebagai isyarat bahwa memang kau yang harus kuajak kesini!"

Hyun-In tertawa kecil, menutupi dirinya yang sebetulnya benar-benar tersipu malu. Dalam hati, ia mengakui ia memang jatuh cinta pada Soo-Ki.

"Hyun-In ssi, aku ke kamar kecil dulu, ya?" pamit Soo-Ki. Hyun-In mengangguk. Soo-Ki ngacir mencari kamar kecil dan Hyun-In berjalan-jalan sendirian.

Tiba-tiba Hyun-In melihat seorang pemuda sedang jongkok membereskan bawaannya yang terjatuh, sepertinya ia ditabrak tadi. Hyun-In menghampiri pemuda itu dan tanpa sungkan membantunya.

"Eh? Apa yang kau lakukan?" tanya pemuda itu bingung.
"Membantumu, tidak lihat?" sahut Hyun-In cuek. Dengan cekatan, barang-barang milik pemuda itu ia ambil dan ia rapikan sekaligus. Hyun-In tersenyum puas melihat raut kagum dari pemuda di depannya.

"Kamsahamnida.. Ehm, iremen moya?" tanyanya sambil memasukkan barang-barangnya kembali ke tempatnya.
"Hyun-In imnida," jawab Hyun-In sambil tersenyum.
"Nae iremen Rae-Ri imnida," pemuda itu mengulurkan tangan dan disambut hangat oleh Hyun-In.
"Ne. Manasoe banggap seumnida!" sahut Hyun-In. Dalam beberapa detik saja, Rae-Ri sudah menyukai pribadi Hyun-In yang ramah dan sopan.

"Hyun-In ssi!" seseorang memanggil Hyun-In. Hyun-In menoleh dan dilihatnya Soo-Ki berjalan ke arahnya dengan wajah lega. "Aku pikir kau hilang! Untung kau tidak jauh!" ujarnya lalu mencubit pipi Hyun-In dengan gemas. Hyun-In mengaduh sementara Rae-Ri hanya tersenyum tipis melihat pemandangan di depannya.

"Mian, mian.. Aku kan memang tidak bisa diam!"
"Kali ini aku ampuni. Ayo kita pulang sekarang!"
"Aku pulang dulu ya! Daeme to bebgetseumnida!"
Soo-Ki menggamit lengan Hyun-In setelah gadis itu melambaikan tangan dan mengucapkan sampai jumpa pada Rae-Ri.
***

Hye-Soo nyaris pingsan tersedak mendengar cerita Hyun-In saat ia mengatakan ia bertemu dengan seorang pemuda bernama Rae-Ri, membuat Hyun-In kebingungan. "Memang ada yang salah dengannya?" tanyanya heran.
Hye-Soo yang baru saja berhasil meredakan batuk-batuknya menatap Hyun-In dalam-dalam. "Aku harus menceritakan sesuatu padamu..." katanya serius.

=TBC, TBC=

Hayooo, apa Hye-Soo bakal langsung membeberkan kenyataan yg dia sembunyikan? Gimana kelanjutan kedekatan Hyun-In sama Soo-Ki? Gimana juga kabar Rae-Ri yang langsung 'kena' sama Hyun-In di pertemuan pertama mereka? Temukan jawabannya di chapter selanjutnya. Sabar yaaaaa ^^

8 komentar:

  1. Kereeeen...!!
    Tapi kok Rae-Ri ga inget sama Hyun-In ya? Dia pelupa ya? Halah, halah... Eh, eh, aku tebak lanjutannya ya! Ga, Hye-Soo ga bakal beberin. Soalnya tiba-tiba Hye-Jin dateng trus ngancem Hye-Soo kalo beberin bakal dia kisu. Akhirnya ga dibeberin deh~! *ditendang Tamie gara" buat skenario yg ga bener*

    BalasHapus
  2. iya, aku membuatnya PIKUN!
    *dilempar*
    Rae-Ri emg ga inget sm Hyun-In. prtama, karena dia ga prnah nganggep Hyun-In *kurang ajar bener* dan kdua, Hyun-In critanya emg udh brubah, cuman si Soo-Ki jenius aj masi inget, hehehe *author geje*

    intinya, Rae-Ri baru bner2 'kenal' sm Hyun-In itu stelah dia hilang ingatan!
    dan Soo-Ki emg udh nebak itu Hyun-In dari gelang peraknya.. *sisanya mah dia ngegombal tuh! hoho*

    wis, dilarang menebak kelanjutan kecuali dlm hati! huahahaha
    liat ntar aja ya siis :D

    BalasHapus
  3. Deuh...Tamie Dongsaengie...
    Cerita makin kerena aje hoho..
    tapi seperti biasa gr'' kelamaan apdet saia jadi ikut''an amnesia pas awalnye hihi...*mian*
    Tapi pas udah baca ke tengahnya mah yah..lumayan ngerti lah *dilempar*..

    Enak ye jadi si Hyun In..baru kenalan ma Soo Ki langsung weh diajak ke taman ria..
    tapi si pengacau Rae Ri harus dateng lagi ene..
    mengganggu aje..
    mau saia basmi ahh~..dilempar...

    Ya udah saia kabur dulu deh..
    saia tunggu loh lanjutannya hoho...

    BalasHapus
  4. aah, makasih onn *shy shy meong*
    jiaaaah, hahaha gapapa deh.. santai aja onn~

    iyaaaa, enaaaaak deh! ganteng pula Soo Ki-nya, HUAHAHAHAHA

    jiah, jgn dibasmi dong onn.. Rae-Ri itu nama samaran suami saya loh.. tar dia ngambek kalo sm onnie-ku ditendang XDD

    siaaaap! janji deh skrg ga akan lama, biar kaga pada amnesia yg baca! hihi

    BalasHapus
  5. waa... Soo-Ki gombal...!! *dibekep Soo-Ki*
    yah, terlanjur komen tentang kelanjutannya, yaaah...

    Tamie, kasih cerita tentang Hye-Soo sama Hye-Jin jg dong~ ya? ya??

    BalasHapus
  6. hah? *bengong setaun* *dilempar onew. langsung sadar deh XDD*

    aduh, cerita kaya apa maksudnya? diselip2in apa dibikin khusus?

    BalasHapus
  7. selip-selipin aja...
    aku ga mau ngerepotin *padahal ini udah ngerepotin*
    di FF ini juga gpp..

    BalasHapus
  8. oke, ntar yaa aku coba tak-atik lagi draft ceritanya..
    tp kalo kurang memuaskan, miaaaaan~

    BalasHapus

makasih yg udah mau nyasar eh, mampir kesini.. makasih juga buat komentarnya, jgn bosen-bosen yaa :D

..kunjungan para tetangga..