..secuil tentang sayaa..

Foto saya
hoooi, nama saya Aisha L. Tamara Jinki Setiawan Yong Dae, tp cukup panggil saya tamie. el juga boleh, ONEW apalagi, hehe. pecinta sepakbola, badminton, korea, novel, musik, SBY, daan segala sesuatu yg asik, seru, serta menyenangkan. yup, sekian ^^

..baca..

..baca..
Aerial by Sitta Karina

..ngupingin..

..ngupingin..
Ring Ding Dong by SHINee

..friendship quotes..

17 Desember 2009

[VID] SUPER JUNIOR KRY & SUNGMIN PREMIER LIVE @ JAPAN 2009

Serius deh, nonton video ini bikin saya makiiiin jatuh cintrong sama dua pangeran saya di Suju:

CHO KYUHYUN dan KIM RYEOWOOK ..

Saya termehek-mehek nontonnya~ dan memujamuja yang-nge-shoot karena pas bagian Kyuhyun di close up wajahnya terlihat tampan sekali *blush*
FYI, ini rambut barunya Kyu loooh. Tambah ganteng aja deh dia~
Satu lagi, disini ADA SUNGMINNIE~!
Dah ah, bacot mulu. Nonton sendiri yak XDD

NB: Jangan pada naksir sama pangeran saya! Itu udah dibooking seumur hidup! Wekwekwek~

[NEW RELEASE] DRAMA BAGI RAPOT

Kamis, 17 Desember 2009
Cast: So Yun aka author , Eomma aka Bunda, other.
Setting: SM Alfirdaus Mendungan - Pabelan - Sukoharjo, pagi hari kira-kira pukul 08.30 WIBAF (Waktu Indonesia Bagian Al-Firdaus)

Di perjalanan menuju sekolah

So Yun
(Deg-degan nggak jelas, sibuk baca doa, dzikir, tahlilan, dsb)

***

Sesampainya di sekolah...

Eomma
Mbak, ikut turun ya?

So Yun
Hah? Males maaam, nggak ada temen tuh~ (tengok sekolah yang sepi, hanya banyak mobil-mobil bertebaran. Terus dimana sepinya?)

Eomma
Heh, turun ah! Yang sekolah disini siapa coba?

So Yun
Yeah, yeah, mari kita turun..

***

(Eomma masuk ke kelas, So Yun maen fesbuk di hape sambil mondar-mandir. Mana loading lama, So Yun ngumpat-ngumpat dalam hati. Tiba-tiba muncul seorang tante-tante-bawa-bayi)

Tante-tante-bawa-bayi
Dek, permisi, kelas 8b dimana ya?

So Yun
Lurus belok kiri---eh salah, itu di lantai dua, belok kanan.

Tante-tante-bawa-bayi
Oh, makasih ya! (senyum)

So Yun
Nggih, sama-sama (senyum juga)
So Yun pun baru menyadari kedodolannya, karena baru ngeh lurus belok kiri itu WC Guru

***

(Beberapa saat kemudian Eomma keluar kelas dengan ekspresi yang tak bisa ditebak. Oh yeah, ibuku akan selalu begini)

Eomma
Ayo mbak salam dulu sama gurunya!

So Yun
(salting karena mau langsung ngacir aja ke mobil)
I-iya, assalamualaikum Bu Sandra!

Bu Sandra
Wa'alaikum salam. Sampe ketemu tanggal 4 ya Tam!

So Yun
Iya Bu~

***

Di mobil

Eomma
Mbak, ranking tujuh lho

So Yun
(berasa bisulnya baru pecah, lega amat sangat luar biasa)
Wah, bagus dong. Tengah semester kemaren ranking sembilan

Eomma
Wah masa? Sip deh kalo gitu.

So Yun
Ada hadiahnya nggak mam?

Eomma
Ada, tenang aja..

So Yun
(semangat)
Apa apa apa? (membayangkan berbagai jenis hadiah yang biasa diterima dalam rangka ranking naik)

Eomma
Temenin bunda ke pasar, beli tahu. Ntar bunda beliin kerupuk kesukaan mbak deh, oke?

So Yun
(gondok)

**END**

Based on true story, hohoho

26 November 2009

Third Chapter

Annyeong haseyo~
Saya kembaliii, setelah sekian lama menghilang dari peredaran (?) dan kali ini muncul membawa chapter ketiga RFS saya, hohoho. Mian kalo nunggu lama, author disibukkan sama segala macam tetek bengek di sekolahnya, hehe. *berasa banyak yg nungguin* *harus, kalo ngga author nangis darah seember trus mogok kerja setaun*

Oh iya, saya juga mau ngucapin makasih buat temen saya yang tengil abis, Niyul Ucup Wekwek. Hoho. Makasih novelnyaaa, tau aja deh gue pengen itu novel. Tengso Cup! Kaga ape-ape kadonya telat, yg penting utuh en iklas, betul?
Nah, daripada kelamaan, sijak hagetseumnida! ^^
NB: dimohon komen, kritik, saran, apa lah terserah, setelah anda membaca part ketiga dibawah ini.. okeh okeh? pliiiiiiiiis *muka melas* gomaweo chingu :)




-Flashback chapter-
Hyun-In bertemu dengan orang yang menabraknya tiga tahun lalu, Kim Soo-Ki. Sejak pertemuan pertama--setelah tiga tahun--, keduanya sudah sangat akrab, bahkan Hyun-In merasa dia jatuh cinta pada Soo-Ki. Hye-Jin dan Hye-Soo juga merasa lega karena berpikir dari sini babak baru hidup Hyun-In dimulai. Tapi, sebelum babak baru itu bergulir, Rae-Ri muncul kembali di depan Hyun-In meski mereka sama-sama tak mengenali..




Chapter 3

"Hyun-In~a, ada sesuatu yang harus kukatakan padamu..." nada bicara Hye-Soo berubah serius. Gerakan Hyun-In yang sedang asyik ngemil terhenti.
"Apa?"
Hye-Soo menghembuskan nafas. Ada keraguan yang membuncah di benaknya. Haruskah ia beberkan kenyataan itu sekarang? Bagaimana reaksi Hyun-In nantinya?
"Hye-Soo~a, ada apa? Cepetan dong, aku pingin ke kamar mandi, nih," Hyun-In meringis membuat Hye-Soo yang sudah susah payah menciptakan suasana tegang itu menahan tawa. "Jadi begini yaaaa..." Hye-Soo buka suara. Mata Hyun-In membulat penasaran, membuat Hye-Soo semakin geli.

"Mwooooooo?" teriak Hyun-In gemas, setelah melihat Hye-Soo malah cengengesan. Hye-Soo berdehem sebentar sebelum melanjutkan, "Rae-Ri itu.. sebenarnya dia.. laki-laki.."

"Hah?" Hyun-In melongo dengan sukses.
***

"Kau tidak menceritakannya?" tanya Hye-Jin dengan ekspresi bingung. Hye-Soo mengangguk. "Kenapa wajahmu malah jadi kusut?" balas Hye-Soo. "Tidak.. Aku hanya heran saja.. Aku pikir kau tidak akan sanggup menahan diri untuk tidak membongkar semuanya pada Hyun-In!"
Hye-Soo tertawa. Hye-Jin merengkuh tubuh Hye-Soo lalu menyibakkan anak rambut yang terurai di kening gadis itu.
"Sekarang ini kita masih bisa berkelit, tapi takkan lama. Kau harus siapkan jawaban untuk menangkis serangan pertanyaannya.."
"Tenang saja, aku kan tidak menghadapinya sendirian.." sahut Hye-Soo lalu mencubit pelan hidung bangir Hye-Jin. Hye-Jin termenung sejenak sebelum menjitak kepala kekasihnya itu. "Sialan!" umpatnya lalu tertawa.

Hyun-In menonton adegan itu dari balik dinding pembatas dengan senyum getir. Ia tak bisa mendengar pembicaraan Hye-Soo dan Hye-Jin, tetapi satu hal yang dia tahu, Hye-Soo terlihat begitu bahagia bersama Hye-Jin. Hyun-In iri, karena selama tiga tahun pasca kecelakaan, ia tak pernah bisa merasa sebahagia itu... kecuali saat ada Soo-Ki.

Senyum Hyun-In merekah mengingat sosok pemuda yang mengisi ruang kosong di lubuk hatinya itu. Sejak bertemu Soo-Ki, Hyun-In merasa dirinya komplit, dan utuh. Saat bersama Soo-Ki, Hyun-In merasa lebih bebas menjadi dirinya sendiri. Wajah Soo-Ki, matanya yang bening dan cerdas, senyumnya yang ramah, suaranya yang tegas berwibawa, tawanya yang merdu... Semuanya melekat dalam benak Hyun-In. Mungkin memang dia... Satu-satunya orang yang bisa membuatku merasa sempurna..
***

"Besarnyaaaaa!" seru Hyun-In. Matanya tak bisa berhenti menatap sekeliling gedung yang luar biasa besar dihadapannya. Sekarang ini, Hyun-In dan Soo-Ki sedang berada di halaman utama Seoul National University, universitas paling prestisius di Korea. Dan berkat latar belakang pendidikannya yang memuaskan, Hyun-In berhasil menceburkan diri kesini.

"Luar biasa! Benar-benar universitas yang luar biasa! Kau hebat sekali bisa masuk sini dengan beasiswa!" ujar Hyun-In pada Soo-Ki dengan tatapan takjub yang tulus. Soo-Ki tertawa. "Kau cerdas, Hyun-In ssi. Kau juga berkesempatan mendapatkannya,"
"Oppa bisa saja," gelak Hyun-In. "Tapi.. Gomawo," Hyun-In menyunggingkan senyum yang selalu berhasil membuat Soo-Ki panas dingin. Tiba-tiba...

"Hyun-In ssi?" panggil seseorang. "Rae-Ri hyung?" seru Hyun-In kaget. "Kau.. Bagaimana caranya kau ada disini?"
"Aku? Aku mahasiswa disini," ujar Rae-Ri sambil menyibak rambutnya yang tertiup angin. Gayanya mengingatkan Hyun-In pada Xiah DBSK.
"Kau bersama... Soo-Ki hyung?" Rae-Ri menoleh ke arah Soo-Ki dan mengulurkan tangan pada seniornya itu. Soo-Ki tersenyum lalu membalas uluran tangan Rae-Ri. "Hyun-In ssi, kau juga kuliah disini? Ambil jurusan apa?" tanya Rae-Ri antusias.

Hyun-In mengangguk. "Aku mengambil jurusan Korean Culture. Sayangnya aku tidak bisa bareng Soo-Ki oppa, dia mengambil jurusan Korean Philosophy.."
"Kau tidak bareng Soo-Ki hyung, tapi kan bareng aku.. Aku juga ambil Korean Culture," Rae-Ri nyengir. Hyun-In membelalakkan mata, kaget bercampur lega. "Oh, syukurlah! Aku tidak benar-benar sendirian, dong!"
Soo-Ki sedikit terkejut mendengar jurusan yang diambil Rae-Ri, dan tiba-tiba saja muncul sebersit rasa cemburu di dadanya, namun masih bisa ia tahan. Ia berusaha berpikir positif bahwa Hyun-In dan Rae-Ri hanya akan menjadi teman satu fakultas.. yang akan menghabiskan sebagian hari bersama...

~~Butterfly, neoreul mannan chut sungan~~ Nooni beonjjeok meori ssal, belli ding dong oolleosseo~~
Ringtone ponsel Soo-Ki berbunyi heboh. "Permisi," Soo-Ki pamit untuk menerima telepon. "Jeoseumnida," sahut Hyun-In dan Rae-Ri berbarengan.

Beberapa saat kemudian, Soo-Ki kembali dengan wajah menyesal. "Hyun-In ssi, jeongmal mianhae. Aku harus pergi sekarang juga, padahal urusanmu disini belum selesai. Aku tidak bisa mengantarmu pulang.. Bagaimana, ya?"
Hyun-In cemberut. Waduh, gawat kalau dia harus pulang sendiri pakai angkutan, bisa-bisa tengah malam nanti dia baru sampai rumah. Hyun-In memang jadi lupa total pada jalanan Korea setelah hidup tiga tahun di Paris.
"Hm, baiklah, algesseoyo. Nanti aku bisa minta dijemput Hye-Soo," Hyun-In tersenyum menenangkan.
"Tidak usah, bareng aku saja! Kita searah kok," tiba-tiba Rae-Ri nimbrung. "Mwo?" ulang Soo-Ki sambil memicingkan matanya curiga. "Dengar ya namdongsaeng. Aku tidak akan membiarkan yodongsaeng-ku ini pergi bersama orang yang baru dikenalnya. Berbahaya, tahu!"

Rae-Ri tertawa pelan. "Tenang hyung, aku benar-benar hanya ingin mengantarnya pulang. Tak ada maksud lain, sumpah!" Rae-Ri mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya bersamaan. Soo-Ki menghela nafas, menoleh pada Hyun-In. "Goenchanayo, Hyun-In ssi?"
Hyun-In mengangguk. "Goenchanayo, Oppa. Percayalah, aku akan pulang dengan selamat."
Akhirnya, walau setengah hati, Soo-Ki mengizinkan Rae-Ri mengantar Hyun-In pulang.
***

Malamnya...
Sudah nyaris satu jam Soo-Ki menunggu di seberang jalan apartemen Hyun-In, tapi belum juga ada tanda-tanda gadis itu tiba. Soo-Ki gelisah, terlebih ponsel Hyun-In tidak aktif. Pasti mati, Soo-Ki ingat betul Hyun-In mengeluh ponselnya lowbat ketika ia mengantarnya ke SNU tadi pagi.

Tepat satu jam, akhirnya Hyun-In muncul. Wajahnya terlihat sangat lelah, namun tersirat gurat-gurat rasa puas. Entah apa yang dilakukan Hyun-In dan Rae-Ri seharian tadi. Soo-Ki memukul setir mobilnya, meluapkan sedikit emosi yang mendadak menggelegak memenuhi kepalanya. Kali ini, sangat terasa, bahwa kehadiran Rae-Ri akan menjadi jembatan pemisah antara Hyun-In dan dirinya, yang bahkan terekat pun belum...

=TBC, TBC=




Jah, panjang bener yak? Kesepuluh jari saya langsung seksi inih, dipake mijetin kibor mulu dari tadi, hoho *apaan sih ni bahasa, norak banget*
Udah ye, saya pamit dulu.. ditunggu komennya, awas deh kalo lupa.. *mamerin bogem ala preman tanah abang*

22 November 2009

happy birthday dan cerita seharian..

Annyeong haseyoooooooooooo~ (tereak sambil melambaikan tangan) *lebay*

Saya mau ngucapin saengil chukkahamnida buat yang ulang tahun kemaren, diantaranya:
SAYA SENDIRI! hahahaha. Makasih ya Allah, masih ada kesempatan menikmati hidup sampai angka lima belas. Mudah-mudahan dengan bertambahnya umur, bertambah juga kebaikan dan ketaqwaan hambaMu ini. Amin!

Trus, Kak Yoke aka Yonathan Suryatama Dasuki, salah satu atlet ganda putra pelatnas bulutangkis Indonesia. Jadilah kita kemaren bertukar selamat ya kak? Hoho. *pengennya sih tukeran kado juga* *digampol panci*

Yang ketiga, Kak Dennis, bassist LYLA! Huwoooooo~ jadi inget jaman saya lagi cinta cintanya sama LYLA, dan kegandrungan setengah mati sama bassist-nya! Hahaha *memalukan* MySpace

***

Sekarang, cerita sehari kemarin ya. Dimulai jam dua belas malam lewat sebelas menit, hape saya berbunyi. Oh, ternyata ada SMS ucapan selamet ultah dari ching onnie, onnie-ku yang paling baiiiiiik seduniaaa~. *ge er ga ya si onnie? hihihi*

Abis dibales, saya tidur lagi. Paginya, buka FB bentar, maksudnya mau update stat doang tapi ternyataaaaa, notif udah bejibet. Yaudah, balesin wall sambil senyam senyum. Makasih banget semuanyaa, makasiiiih banget yang udah inget ultah saya. Makasih buat semua doa-doanya, makasih sih sih deh! Tengkyusomataylapyubeybeh!

Jam delapanan, ada sms dari dongsaengie-ku tersayaaang, ai. Makasih ya sayang, makasiiih!

Lewat sekian menit, ada sms dari karina dwiarini ku tersayang muah muah. Makasih juga ya sayang!

Yaudah, standar deh. Setengah sembilan ke sekolah, pre-test GO. Begitu ketemu sama adek-adek kelas, saya langsung dikeroyok. Dipeluk, dicium, ditarik-tarik wzz abis deh badan gue. Setelah itu semuanya pun berjalan sedemikian rupa, rada mangkel, abis soal pre-test nya susah... MySpace

Terus, pulang. Di rumah, disuruh nyobain baju buat acara nanti sore. Jadi ceritanya, kita diundang ke resepsi pernikahan anak temennya appa waktu masih di Vietnam dulu. Kan appa sama omma waktu pengantin baru tinggalnya di Vietnam tuh.. *sirik*
Nah, anak temennya appa, namanya Julie. Waktu kecil, kerjaannya ngintilin omma gue mulu, hahaha. Kata bunda, Julie ini sering banget ngetok-ngetok kamar apartemennya bunda sama ayah, padahal kamarnya dia lumayan jauh tuh. Dasar anak kecil, ya? *berasa tuwir aje*

Jam setengah lima, kita berangkat ke Jogja. Eh, belum cerita ya? Mbak Julie ini dapet anaknya putra mahkota raja Jogja Paku Alam. Perlu diulang? PUTRA MAHKOTA. Pangeran. Yang hartanya kaga bakal abis dimakan tujuh turunan (katanya, sih). Namanya Mas Hario. Resepsi diadakan di gedung Graha Pradipta Jogja Expo Center yang segede setan! GUEDHHHEEEEE BUWANGET!

Saking ekslusifnya ini pesta, setiap tamu harus memakai bros khusus di dada kiri. Eh eh, setiap undangan dilengkapi kartu 'pengganti buku tamu', 'voucher parkir' dan 'voucher makan' buat pengantar (baca: supir). Intinya, yang nggak membawa komponen tsb nggak bakal bisa masuk. Terus, waktu ngasih kartu 'pengganti buku tamu', penerima tamu bakal ngasi satu kartu lagi, yaitu 'voucher suvenir' yang dituker di pintu keluar. Edan.


Dan tauuuu nggaaaaaaak? Baju resmi saya, pakai ROK. Untung rok beludru ini masih bisa dipake jalan 'mbegagah', dan kaki saya masih bisa gerak bebas. Permasalahan selanjutnya adalah sepatunya. Saya pakai sepatu hak.. MySpace Nggak terlalu tinggi sih, tapi saya kan nggak biasa pake sepatu begituan lama-lama. Alhasil, baru menjejakkan kaki di gedungnya aja kaki saya udah linu semua! MySpace

Di pintu masuk, rombongan dibagi jadi dua jalur. Pertama, orang-orang 'penting'. Kedua, tamu yang lain, kerabat, dan sebagainya. Disitu nunggunya lamaaaaa banget, siput aja kalah kali. Jadi berasa saya yang lagi kawinan! *tau kan, nikahan adat Jawa itu gimana kalo jalan?* Dari pintu masuk sampai salaman ke mempelai MEMBUTUHKAN WAKTU SETENGAH JAM. wth!!?

Setelah ituuu, makaaaaan! Oh gosh, emang orang elit pilihannya paten. Makanannya uenak uenak bangeeeeeeet~ Seandainya aja bukan di pesta kawinan orang gedean, pasti saya udah minta dibungkusin! Huahahaha. *norak* Sejenak, saya lupa sama masalah sepatu-hak-dan-kaki-sakit saya. Tapi, problemnya ganti. Bunda minta dianter kesana kemari, padahal itu gedung luasnya jabang bayi. Mana jarak dari satu meja ke meja lainnya lumayan jauh. Dengan keadaan saya pake rok dan sepatu hak, rasanya betul betul luar biasa... MELELAHKAN.

Begitu selesai icip sana sini, kamipun pulang. Di mobil, saya langsung lepas sepatu dan mijit-mijit kaki, sambil duduk sesuka hati tentu saja. Asal nyaman sih, okeh!

***

Chapter tiga udah selesai. Tapi saya nggak tau sempet nge-post-nya kapan, huehehehe.

***

Proyek saya yang satunya udah kelar, dan saya putuskan takkan dipublikasikan! Cukup menjadi arsip saya saja~

***

Segitu aja deh, udah ya. Annyeong! MySpace

11 November 2009

Second Chapter

Annyeong haseyo~ ^^

Sebelumnya saya minta maaf sedalam samudra karena lambreta nge-post cerita ber-chapter ini. Miaaan, soalnya ada tiga proyek sekaligus yang kejar tayang menunggu saya, dan saya bingung mesti ngerjain yg mana duluan ^^; *akhirnya dikerjain barengan, dan selesainya sama-sama... lama :p*
Nah, untuk mempersingkat waktu, sijak hagetseumnida (mari kita mulai) chapter kedua cerita saya.. Mian kalo geje, tidak memuaskan, dan kekurangan lainnya. Makanya kasih saran!

***

=Flashback chapter=
Hyun-In kembali ke Korea setelah tinggal di Paris selama tiga tahun bersama sahabatnya, Han Hye-Soo. Tiga tahun yang lalu ia mengalami kecelakaan cukup parah dan membuatnya amnesia. Baru beberapa jam ia menginjakkan kaki di Korea, dia sudah dipertemukan oleh seseorang... dari masa lalunya...


Chapter 2

"Kau!!?" seru Hyun-In dan orang itu bersamaan. "K.. kau? Hyun-In ssi?" tanyanya agak gugup. Seketika rona wajahnya berubah. Hyun-In mengangguk. Memorinya memutar bayang-bayang hitam putih tentang sosok pemuda di hadapannya ini. Tidak bisa.. Terlalu samar.. Hyun-In tak bisa mengingatnya walau yakin pernah bertemu orang ini sebelumnya.

"Masih ingat padaku?" tanya pemuda itu sambil menyibakkan rambutnya yang dicat kemerahan. Hyun-In mengerutkan kening, lalu menggeleng pasrah. "Mian, tapi ingatanku belum benar-benar pulih setelah kecelakaan yang kualami tiga tahun lalu. Aku yakin pernah melihatmu tapi aku sungguh-sungguh tidak ingat.."

Pemuda itu menampilkan ekspresi terkejut. "Jamsiman gidariseyo. Jangan bilang kau..."
Hyun-In mengangguk. "Ya, aku memang amnesia."
"Astaga!" pekiknya. "Je.. Jeongmal mianhae! Ya Tuhan, aku tidak menyangka sudah membuat seorang gadis amnesia! Maafkan aku, aku tak sempat menengok atau menanyakan kabarmu karena ada tugas penting yang harus kulakukan. Kabar terakhir yang kudengar kau sudah pergi ke Paris. Dan dari situ, aku kehilangan kontak...."

Hyun-In bengong mendengar kalimat demi kalimat yang meluncur cepat bagai petasan dari mulut pemuda ini. Dan tampaknya, pemuda ini tahu apa yang dipikirkan Hyun-In. "Nae iremen Kim Soo-Ki imnida," katanya sambil mengulurkan tangan. "Yang... dengan tidak sengaja, menabrakmu tiga tahun lalu. Kasarnya, aku yang sudah membuatmu amnesia.."

Tangan Hyun-In yang sedang menjabat tangan hangat Soo-Ki mendadak terhenti. "Jadi.. Kau yang menabrakku?" tanyanya memastikan. Soo-Ki mengangguk. "Aku berusaha bertanggung jawab sebisaku, dengan membawamu ke rumah sakit dan membayar semua biaya pengobatanmu. Tapi sumpah, aku masih merasa bersalah karena aku belum sempat bicara langsung denganmu.."

Wajah kaget Hyun-In kembali cerah. "Sudahlah, lupakan. Itu sudah tiga tahun yang lalu, kan? Dan aku sudah memaafkanmu, tentu saja."
Soo-Ki melongo. "Yang benar? Kau tidak marah?"
Hyun-In tertawa. "Kenapa aku harus marah? Aku bisa membunuhmu disini kalau aku mau, tapi dengan syarat kau bilang bahwa kau menabrakku karena ingin menghilangkan nyawaku!"
Soo-Ki ikut tertawa, sebuah tawa lega. Tiba-tiba saja ia merasa nyaman berada di dekat Hyun-In, begitu juga sebaliknya.

"Ngomong-ngomong," Hyun-In memulai pembicaraan baru. "Bagaimana caranya kau masih ingat nama dan wajahku? Setelah tiga tahun berlalu, aku yakin banyak perubahan yang terjadi padaku."
Soo-Ki tersenyum. "Aku ingat gelang perak yang melingkar di tangan kananmu. Dan.. Aku memang langsung mengenali wajahmu, karena bagiku wajahmu masih sama dengan tiga tahun yang lalu!"
Hyun-In tertawa pelan. "Mwo? Kalau begitu aku harus memuji ingatanmu, Tuan!"
Soo-Ki tersenyum. "Anio, anio. Tidak susah kok mengingat wajahmu, karena kau.. Cantik.."

Wajah Hyun-In langsung merona mendengarnya. Ia buru-buru menunduk tapi Soo-Ki sudah melihat semburat itu. Soo-Ki langsung tertawa berderai dan Hyun-In baru sadar betapa merdu suara tawa pemuda itu. "Aku serius!" ujarnya sambil mengacungkan dua jari.
"Sudah sudah! Bisa terbang hidungku kalau kau puji aku lagi!" sergah Hyun-In setengah tersipu. Soo-Ki meredam sisa tawanya dan tersenyum lebar, membuat jantung Hyun-In jadi heboh sendiri. Senyum itu.. Ramah dan sangat bersahabat, membuat kesannya tinggi di mata Hyun-In.
Ah, apa secepat itu aku jatuh cinta?

"Wah, sudah sore.." gumam Soo-Ki sambil menengadahkan kepalanya ke langit. "Sebaiknya kau pulang, Nona. Biar kuantar, ya?"
Hyun-In menggeleng. "Apartemenku tidak jauh, kok. Nanti malah merepotkanmu.."
Kali ini giliran Soo-Ki yang menggeleng. "Tidak. Membiarkan seorang gadis berjalan sendirian sore-sore begini beresiko, tahu. Kalau kau kenapa-napa, aku tak mau dituduh jadi tersangka!"
Hyun-In tertawa renyah mendengarnya, membuat jantung Soo-Ki serasa berhenti berdetak. Jantungnya berdesir tatkala melihat wajah Hyun-In berkilat temaram terkena bias matahari senja. Apa iya aku jatuh cinta padanya?
"Baik, baik. Aku menyerah. Ayo!"
***

Di apartemen Hyun-In...
"Kemana sih anak ituuuu!?" geram Hye-Soo sambil menghentakkan kakinya, cemas. Sejak sejam lalu ia berusaha menghubungi Hyun-In yang secara ajaib menghilang dari apartemennya tanpa kabar. Dengan keadaan Hyun-In yang baru pulang dari luar negeri dalam keadaan amnesia, siapa yang tidak cemas?

"Apartemen kosong, tidak ada catatan, telepon tidak diangkat.. Aduuuh, dimana sih anak itu? Kalau muncul akan ku..."

"Hye-Soo? Hye-Jin? Sudah lama, ya?" suara Hyun-In yang ceria muncul memecah kekhawatiran Hye-Soo, dan kantuk Hye-Jin yang kelelahan berdiri di depan pintu. "Hyun-In~a??!!" Hye-Soo berlari menghampiri Hyun-In dan langsung menjitak kepala gadis itu sampai meringis kesakitan.

"DARIMANA SAJA KAU, HAH!!?"
Hyun-In mengusap-usap kepalanya. "Itta, Hye-Soo~a! Aku kan cuma jalan-jalan sebentar.."
"Itta? Ada, katamu? Ada dimana? Kalau kau ada, aku tak akan mencemaskanmu, tahu!"
"Hyun-In ssi, ini saputanganmu terting..."

Hye-Soo bengong melihat sosok pemuda luar biasa ganteng berdiri dan wajah pemuda itu langsung berubah kikuk melihat Hyun-In sedang disidang. "Ah, gomaweo!" Hyun-In menghampiri Soo-Ki dan meraih saputangannya, membiarkan Hye-Soo terpaku di tempat dan Hye-Jin cemberut ngambek. "Aku pulang dulu, ya. Sepertinya aku mengganggu. Annyeong haseyo, Hyun-In ssi. Nae-il tto mannayo!"

Hyun-In melambaikan tangan dan menunggu hingga Soo-Ki hilang di pintu lift. Ketika ia berbalik, Hye-Soo sudah berdiri di belakangnya dengan mata berbinar. "Ceritakan padaku siapa dia!!" jeritnya antusias.
***

Hyun-In menceritakan semuanya dengan wajah sumringah. "Oh, aku sungguh tidak menyesal dia menabrakku karena dia begitu baiiiiik!" Hyun-In mengakhiri ceritanya.
"Dan tampan," tambah Hye-Soo sambil melempar bantal kursi ke arah Hyun-In. Hyun-In tertawa. "Hei, sudah, Hye-Soo~a. Pacarmu ngambek tuh!" bisik Hyun-In lalu cekikikan. Hye-Soo menoleh dan menjulurkan lidah ke arah Hye-Jin. "Kau tahu aku tak akan selingkuh darimu, kan?"

"Hei hei, lanjut.." Hye-Soo kembali serius pada Hyun-In. "Jadi ceritanyaaa, kau sudah jatuh cinta padanya nih?"
Hyun-In tersentak, wajahnya langsung memerah. "A.. Aku.."
"Katakan ya saja, aku setuju kalau dia bersamamu! Ketimbang si..." Hye-Soo menggantung kalimatnya ketika sadar ada sesuatu yang tak bisa diungkapkannya.
"Ketimbang siapa?" kejar Hyun-In penasaran.
"Monyet!" jawab Hye-Soo asal.
"SIALAAAAAAN!" Hyun-In menimpuki Hye-Soo dengan sebal.
***

TING TONG!
Suara bel pagi itu mengejutkan Hyun-In yang sedang asyik sarapan sendirian. Untung udah mandi! batin Hyun-In sambil berjalan menuju pintu, mengira-ngira siapa yang datang ke apartemennya sepagi ini.
"Ah, annyeong haseyo!" Soo-Ki membungkuk ramah. "A-annyeong haseyo," balas Hyun-In sambil tersenyum. "Angin apa yang membawamu datang kesini pagi-pagi?" tanya Hyun-In heran setelah menyilahkan Soo-Ki masuk. Pemuda itu terlihat charming dengan celana jeans hitam dan T-Shirt abu-abu, sebenarnya sederhana tapi sangat pas dipakai Soo-Ki.

"Angin ini!" Soo-Ki menunjukkan dua tiket gratis sebuah taman hiburan termahal di Korea. "Mwo?" Hyun-In bengong tak percaya. "Aku sengaja mengajakmu pagi-pagi supaya kita puas mengelilingi taman hiburan itu. Kau tahu kan, taman itu besar sekali? Jangan menolak karena kau adalah orang penting yang kupilih!"

Lalu tanpa menunggu jawaban Hyun-In, Soo-Ki langsung menggeretnya menuju lapangan parkir dan menyuruhnya masuk mobil.
***

Hye-Soo~a, aku pergi bersama Soo-Ki, dan mungkin menghabiskan waktu seharian. Nanti malam kau menginap di apartemenku, ya? Aku mau bercerita banyak! ^^

Hye-Soo tersenyum membaca SMS itu. Ia senang karena Hyun-In terlihat begitu bahagia sejak pertemuan pertamanya dengan Soo-Ki. "Apa tidak terlalu cepat?" tanya Hye-Jin yang mengintip membaca SMS itu dari belakang pundak Hye-Soo. Hye-Soo menghembuskan nafas. "Mungkin ya, tapi sepertinya mereka benar-benar jatuh cinta. Tak apalah, asal Hyun-In bahagia.. Dan.. Pemuda itu tidak seperti Rae-Ri.."
Hye-Jin mengangguk setuju. "Dengan hadirnya Soo-Ki, aku harap Hyun-In dan Rae-Ri bisa tutup buku.."
"Apa Hyun-In tak akan mengingat kembali tentang Rae-Ri?" tanya Hye-Soo.
"Pasti ingat, tentu saja. Tapi kalau dia sudah menemukan cinta baru, kenapa dia harus mengingat masa lalunya yang pahit?"
***

Seharian ini Hyun-In benar-benar melepaskan seluruh kepenatan dalam dirinya, dengan menikmati semua wahana yang disediakan taman hiburan itu. Soo-Ki sendiri sudah puas melihat binar-binar keceriaan yang terpancar di wajah Hyun-In. Entah mengapa, melihat wajah cerah Hyun-In saja sudah membuatnya sangat bahagia. Mungkin karena aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya...

"Oppa, terima kasih banyak untuk semuanya.. Aku benar-benar menikmati hari ini!" ujar Hyun-In riang. Ia lalu mencium pipi Soo-Ki yang duduk disampingnya. Dapat ditebak, tubuh Soo-Ki mengejang, tapi ia langsung dapat menguasai dirinya. Soo-Ki mengelus-elus kepala Hyun-In dengan lembut. "Cheonmanneyo, aku senang melihatmu gembira!"

"Tapi.. kenapa kau mengajakku? Kita kan baru kenal?"
Soo-Ki mengangkat bahu. "Saat menerima tiket ini, hanya namamu yang terlintas di kepalaku. Yah, kuanggap itu sebagai isyarat bahwa memang kau yang harus kuajak kesini!"

Hyun-In tertawa kecil, menutupi dirinya yang sebetulnya benar-benar tersipu malu. Dalam hati, ia mengakui ia memang jatuh cinta pada Soo-Ki.

"Hyun-In ssi, aku ke kamar kecil dulu, ya?" pamit Soo-Ki. Hyun-In mengangguk. Soo-Ki ngacir mencari kamar kecil dan Hyun-In berjalan-jalan sendirian.

Tiba-tiba Hyun-In melihat seorang pemuda sedang jongkok membereskan bawaannya yang terjatuh, sepertinya ia ditabrak tadi. Hyun-In menghampiri pemuda itu dan tanpa sungkan membantunya.

"Eh? Apa yang kau lakukan?" tanya pemuda itu bingung.
"Membantumu, tidak lihat?" sahut Hyun-In cuek. Dengan cekatan, barang-barang milik pemuda itu ia ambil dan ia rapikan sekaligus. Hyun-In tersenyum puas melihat raut kagum dari pemuda di depannya.

"Kamsahamnida.. Ehm, iremen moya?" tanyanya sambil memasukkan barang-barangnya kembali ke tempatnya.
"Hyun-In imnida," jawab Hyun-In sambil tersenyum.
"Nae iremen Rae-Ri imnida," pemuda itu mengulurkan tangan dan disambut hangat oleh Hyun-In.
"Ne. Manasoe banggap seumnida!" sahut Hyun-In. Dalam beberapa detik saja, Rae-Ri sudah menyukai pribadi Hyun-In yang ramah dan sopan.

"Hyun-In ssi!" seseorang memanggil Hyun-In. Hyun-In menoleh dan dilihatnya Soo-Ki berjalan ke arahnya dengan wajah lega. "Aku pikir kau hilang! Untung kau tidak jauh!" ujarnya lalu mencubit pipi Hyun-In dengan gemas. Hyun-In mengaduh sementara Rae-Ri hanya tersenyum tipis melihat pemandangan di depannya.

"Mian, mian.. Aku kan memang tidak bisa diam!"
"Kali ini aku ampuni. Ayo kita pulang sekarang!"
"Aku pulang dulu ya! Daeme to bebgetseumnida!"
Soo-Ki menggamit lengan Hyun-In setelah gadis itu melambaikan tangan dan mengucapkan sampai jumpa pada Rae-Ri.
***

Hye-Soo nyaris pingsan tersedak mendengar cerita Hyun-In saat ia mengatakan ia bertemu dengan seorang pemuda bernama Rae-Ri, membuat Hyun-In kebingungan. "Memang ada yang salah dengannya?" tanyanya heran.
Hye-Soo yang baru saja berhasil meredakan batuk-batuknya menatap Hyun-In dalam-dalam. "Aku harus menceritakan sesuatu padamu..." katanya serius.

=TBC, TBC=

Hayooo, apa Hye-Soo bakal langsung membeberkan kenyataan yg dia sembunyikan? Gimana kelanjutan kedekatan Hyun-In sama Soo-Ki? Gimana juga kabar Rae-Ri yang langsung 'kena' sama Hyun-In di pertemuan pertama mereka? Temukan jawabannya di chapter selanjutnya. Sabar yaaaaa ^^

..kunjungan para tetangga..